Saran dan Kritik sampaikan ke email kami : admin@smpn8cimahi.sch.id & admin@smpn8cimahi.com

Tanpa Tarik Pungutan Selain BOS, SMP Negeri 8 Cimahi Tetap Berprestasi

 Home 

 

PRLM - Terbatasnya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sering menjadi alasan banyak pengelola sekolah untuk gagal berprestasi atau bahkan mematok besaran pungutan pada orangtua murid dengan dalih peningkatan mutu. Namun tidak demikian yang terjadi di SMP Negeri 8 Kota Cimahi. Mengoptimalkan BOS, sekolah dengan murid lebih dari seribu orang tersebut tidak menarik pungutan dan tetap berprestasi. Puluhan trofi dari berbagai perlombaan tingkat kota, provinsi, dan nasional menjadi koleksi sekolah di Jalan Kihapit Barat, Leuwigajah tersebut sejak empat tahun lalu.
Trofi-trofi diperoleh berkat prestasi para murid terutama dalam perlombaan ekstrakurikuler, seperti Palang Merah Remaja (PMR), baris-berbaris, pasukan pengibar bendera (Paskibra), dan kesenian. Setelah kenyang memboyong penghargaan di tingkat kota dan provinsi, tim PMR SMPN 8 tahun ini bahkan mencatatkan prestasi di tingkat nasional. "Kami mendukung penuh para murid dalam mengikuti lomba-lomba di berbagai tingkat. Seluruh pembiayaan disokong lewat pemanfaatan BOS. Kami juga mengoptimalkan keberadaan alumni untuk menjadi pelatih," kata Kepala SMPN 8 Ena Laksana.
Tak hanya untuk mendukung minat para murid mengembangkan keterampilan dan bakat mereka melalui beragam perlombaan, BOS juga dioptimalkan untuk membantu para murid dari keluarga miskin. Tidak kurang dari 40 siswa memperoleh suntikan uang transportasi sebesar Rp 300 ribu untuk satu tahun ajaran. Sekolah juga tak jarang membantu menyediakan seragam batik khas sekolah tersebut bagi mereka yang tak mampu membeli.
"Sekolah kami ini berada di pinggiran kota. Mayoritas murid berasal dari keluarga berkemampuan ekonomi menengah ke bawah. Sekolah berusaha peka terhadap kondisi semacam ini. Kalau memaksakan pungutan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, sekolah tidak akan jalan. Karena itu, BOS yang dioptimalkan pemanfaatannya," papar Ena.
**
Kemandirian SMPN 8 dalam memanfaatkan BOS sehingga menjadi salah satu sekolah berprestasi tergolong langka. Apalagi, di awal tahun ajaran baru kemarin, beberapa kasus pungutan mencuat di Kota Cimahi. Yang paling mendapat sorotan, kasus penetapan dana sumbangan di SDN Cimahi Mandiri I. Tak kurang Walikota Itoc Tochija turut bersuara meminta sekolah mengembalikan uang sumbangan dari orangtua murid tersebut.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Cimahi Ike Hikmawati mengungkapkan, mekanisme BOS digunakan pemerintah untuk menekan angka anak putus sekolah. Besarannya memang masih jauh dari ideal. Untuk tingkat SMP misalnya, setiap murid mendapat alokasi dana Rp 813 ribu setiap tahunnya. "Angka ini memang masih jauh dari ideal. Meski demikian, keterbatasan BOS tidak boleh dijadikan pembenaran adanya pungutan dan kegagalan berprestasi," ucapnya.
Menurut Ike, dana partisipasi orangtua murid dimungkinkan untuk meningkatkan kualitas KBM sesuai target sekolah. Meski demikian, dana tersebut hanya boleh ditetapkan lewat dialog, bukan pemaksaan. "Yang selama ini terjadi, sekolah memaksakan penetapan besaran sumbangan tersebut. Dan ini dilakukan berulang-ulang setiap tahun," katanya. (Ag. Tri Joko Her Riadi/"PRLM")***

sumber (www.pikiran-rakyat.com)