Saran dan Kritik sampaikan ke email kami : admin@smpn8cimahi.sch.id & admin@smpn8cimahi.com

PENTAS SENI


Ancaman Gempa Dahsyat Ibukota Indonesia

Gempa bumi yang disertai dengan letusan-letusan gunung api dan hujan abu yang tebal itu terjadi pada malam hari tanggal 4 dan 5 November 1699. Dampak gempa bumi telah menimbulkan kerusakan parah di seluruh penjuru kota dan menyebabkan kerusakan besar pada gedung-gedung.

Gempa bumi ini juga menyebabkan kacaunya persediaan air akibat porak porandanya sistem pengaliran air di seluruh daerah. Terusan-terusan sungai yang penuh lumpur abu gunung api. Aliran sungai Ciliwung bahkan berubah dan membawa sekian banyak endapan ke tempat di mana sungai itu mengalir ke laut.

Atau, mungkin kita juga tidak akan pernah tahu bahwa pantai Jakarta pernah dilanda tsunami jika tidak ada saksi bisu berupa sisa-sisa benteng tentara VOC di Kepulauan Seribu (Pulau Onrust) yang hancur karena dilanda tsunami tahun 1883. Tsunami yang dicetuskan oleh letusan Krakatau itu menewaskan begitu banyak orang di Pantai Jawa dan Sumatera, dan bergerak ke seluruh dunia. Gelombangnya yang sangat besar hingga menewaskan lebih dari 341.000 orang kala itu.

Kita rupanya telah menjadi generasi yang mudah melupakan sejarah bencana alam mengerikan yang terjadi di negeri ini karena kejadiannya sudah berlangsung pada masa lalu. Padahal mengingati sejarah bencana alam masa lalu merupakan modal utama dalam mengenali potensi bahaya yang mengancam diri dan generasi kita.

Tak ada keterangan yang detail soal musabab kepindahan rombongan yang terdiri dari 5 keluarga itu. Namun menurut Ahmad Memet Khumaedi (63), bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh ketidakstabilan tanah di wilayah Pameungpeuk kala itu. “Puncaknya terjadi ketika Gunung Rasamala (sebenarnya hanya sebuah bukit) yang menaungi Pameungpeuk, entah bagaimana tiba-tiba ‘terbelah’ menjadi dua bagian,”kata salah satu sesepuh yang juga masih keturunan Hajah Maing Khodijah itu.

Dan memang menurut Dr.Visser (1922) dalam On Land Earthquakes 1600-1921, Cianjur meruapakan bagian daerah yang pernah dilanda gempa yang sangat hebat pada 28 Maret 1879 dan 14 Januari 1900. Ketika menjenguk foto-foto lama di situs milik KITLV Belanda, saya menyaksikan betapa hebatnya akibat gempa tersebut hingga menyebabkan rumah-rumah penduduk rata menjadi tanah. Adakah ‘terbelahnya’ Gunung Rasamala disebabkan oleh gempa yang berdaya besar tersebut?


DKI berpotensi kena gempa 8,7 skala richter

Jakarta - Pemerintah Daerah Kota Jakarta diminta harus melakukan langkah-langkah antisipasi menghadapi ancaman bencana gempa dahsyat yang berdasarkan sejarah pernah terjadi di wilayah ibukota.

"Sekian ratus tahun pernah terjadi dan akan kembali terjadi, maka perlu melakukan pembenahan terkait ancaman gempa tersebut," kata Staf Khusus Presiden Bidang Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, di Jakarta, Minggu (15/5).

Menurut Andi, Jakarta dan Bandung adalah kota dari 20 kota dunia yang mendapat sorotan dunia untuk mengantispasi ancaman gempa besar 8,7 skala richter di wilayah tersebut. "Saya kira apa yang dilakukan ini harus menjadi keputusan bersama pusat dan Pemda Jakarta, untuk mempersiapkan segala sesuatu," ungkap dia.

Bentuk antisipasi itu, lanjut dia, perlu dilakukan mikrozonenisasi kira-kira gedung mana-mana saja yang tidak standar. Ditambahkan, perlu disiapkan sistem perbankan, militer, dan akses internet yang mampu bertahan sangat gempa besar itu terjadi.

"Akibat gempa maka semua kegiatan bisnis akan kolaps seperti terjadi di Taiwan selama 20 hari. Maka kita menjadi negara mundur peradabannya," tandas Andi.
sumber : primaironline.com

Jakarta Memang Punya Potensi Gempa 8,7SR

JAKARTA, — Staf Khusus Kepresidenan Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief, Minggu (15/5/2011), menyatakan, Jakarta memiliki potensi gempa 8,7 skala richter (SR). Potensi gempa, yang sebenarnya bukan isu baru, bersumber dari aktivitas seismik di wilayah Selat Sunda.
Menanggapi hal tersebut, peneliti gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawijaya, mengatakan, "Potensi itu memang ada. Kekuatannya bisa seperti yang dikatakan, 8,7 skala Richter. Tetapi masih perlu dikaji, apakah bisa kurang dari itu atau bahkan lebih."
Danny mengatakan, potensi kekuatan gempa tersebut bisa diperkirakan dengan melihat dimensi zona subduksi. "Kekuatan gempa itu, kan, berbanding lurus dengan sumber gempa, dimensi zona subduksi. Dari situ kami bisa transfer dengan formula tertentu sehingga mendapatkan potensi gempanya," kata Danny ketika dihubungi, Selasa (17/5/2011).
Potensi gempa di Selat Sunda bisa terjadi sebab wilayah itu berada di atas zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia serta zona transisi subduksi miring di barat Sumatera dengan subduksi tegak di selatan Jawa. Gempa bisa dipicu oleh pelepasan energi dari pergerakan lempeng Indo-Australia ke utara dengan kecepatan 6 cm/tahun.
Menurut rekaman selama ini, Danny mengatakan, gempa berkekuatan kecil sebenarnya sering terjadi di wilayah Selat Sunda, tetapi tidak dengan gempa berkekuatan besar. Ia tak menampik kemungkinan bahwa gempa besar bisa terjadi akibat aktivitas seismik di wilayah ini meski waktunya tidak bisa diperkirakan.
Danny mengungkapkan, yang perlu dilakukan sekarang adalah keseriusan dalam mendata. Menurut dia, penelitian potensi gempa di Selat Sunda hingga saat ini masih minim. Bahkan, bila dibandingkan dengan penelitian kegempaan di Sumatera, penelitian di Selat Sunda belum ada apa-apanya.
Berkaitan dengan potensi gempa ini, Danny menuturkan bahwa Jakarta perlu melakukan langkah antisipasi. "Ini karena di Jakarta, kan, banyak aset dan teknologi. Misalnya kalau gedung pusat cyber itu rusak, ini akan memengaruhi seluruh Indonesia. Belum lagi, misalnya, sektor perbankan dan lainnya."
Danny menambahkan perlunya persiapan di tingkat masyarakat. "Persiapan di masyarakat juga perlu. Misalnya, di Padang, kan, sudah pernah terjadi, masyarakat diajak siap. Tetapi bagaimana di Jakarta? Ini harus juga dilakukan." Di samping itu, bangunan tahan gempa dan sistem evakuasi di gedung ketika terjadi gempa juga harus diperhatikan.
Sejauh ini catatan gempa besar di Jakarta masih minim. "Ada catatan dalam buku Hanna (Willard A Hanna-Hikayat Jakarta) bahwa gempa besar pernah terjadi tahun 1699 yang mengakibatkan kerusakan parah. Namun, belum diketahui apakah gempa itu bersumber dari wilayah Selat Sunda," kata Danny.

source : www.kompas.com