Saran dan Kritik sampaikan ke email kami : admin@smpn8cimahi.sch.id & admin@smpn8cimahi.com

PENTAS SENI


Sekolah Daun, Sekolah Unik Nan Memprihatinkan di Pedalaman Sulawesi Tengah

Topesino adalah sebuah dusun yang terletak di lereng Gunung Gawalise, Kabupaten Sigi, Propinsi Sulawesi Tengah. Kehidupan masyarakat di dusun ini sangatlah bersahaja dengan kondisi yang seluruhnya masih di bawah garis kemiskinan. Rumah tinggal mereka sangatlah sederhana, yang hanya terbuat dari berbagai jenis pelepah daun bahkan ilalang. Tinggal tersebar, berpencar di lereng-lereng dan di balik-balik bukit.

Untuk mencapai dusun ini hanya dapat ditempuh berjalan kaki dan mendaki di atas kemiringan empat puluh lima derajat dalam waktu tempuh lima jam yang sangat melelahkan. Masyarakat yang tinggal di dusun ini adalah masyarakat suku Kaili sub etnis Kaili Inde. Di antara jumlah penduduk sebanyak 175 jiwa dari 48 keluarga, terdapat 65 jiwa anak-anak berusia sekolah.

Pada tahun 2007 atas upaya beberapa orang pemuda dari dusun Topesino dan desa Mantikole dibangunlah sebuah sekolah sebagai tempat belajar untuk anak-anak dusun ini. Bangunan yang sangat sederhana mereka sebut dengan Sekolah Daun. Sebagaimana pada umumnya bangunan yang terdapat pada dusun ini sekolah daun ini pun terdiri dari bermacam-macam daun dan pelepah, serta rumput ilalang. Kondisi di dalam sekolah atau kelas pun sangat memprihatinkan. Meja sebagai tempat menulis hanya terbuat dari dua buah lembar papan yang ditopang dengan kayu, itupun hanya bisa digunakan untuk beberapa orang anak saja. Anak-anak lainnya harus duduk bergerombol dan menumpuk di atas balai-balai yang terbuat dari belahan bambu dan pelepah daun.

Melihat kondisi mereka sebagai anak bangsa, mungkinkah menyadarkan kita bahwa masih banyak anak-anak saudara-saudara kita yang belum mendapat kesempatan mengenyam pendidikan dengan fasilitas pantas, di tengah berlombanya sekolah-sekolah di kota untuk sekedar mendapat sebutan sekolah bertaraf internasional.

Inilah Sekolah Daun dusun di atas awan Topesino, dalam keterbatasan, ketertinggalan, dan kepapaan mereka tetap mengejar dan berusaha menemukan makna pembelajaran untuk mempersiapkan diri sebagai anak pewaris bangsa, di tengah gencarnya kasus korupsi dan hingar-bingar negeri yang sibuk membangun politik. 

Kita bandingkan dengan gaji para boss beberapa BUMN yang notabene adalah uang amanat rakyat, tetapi dengan alasan profesionalisme mereka mengatur gaji mereka dengan persetujuan beberapa pihak yang 'berwenang' mereka dapat menggaji para boss dengan gaji yang fantastis "ratusan juta perbulan" atau seharga dengan beberapa ruang kelas permanen untuk anak-anak kita. Belum lagi fasilitas rumah dinas, mobil dinas dan segala macem bermerek dinas yang juga fantastis mahalnya. Utuhlah gaji mereka yang ratusan juta. Tidak seperti guru-guru honor di pedalaman yang gaji perbulannya hanya sebanding dengan satu kali atau dua kali makan siang para boss-boss ini. Bahkan seringkali para pegawai kecil menggunakan kendaraan pribadi untuk kepentingan dinas seperti mengantar surat, membeli keperluan dinas bahkan membeli seragampun harus dari kantong sendiri dari gaji yang kecil karena seragam dinas pembagian dipakai beberapa bulan sudah kucel. 
Lantas tanggung jawab siapakah ketimpangan sosial seperti ini ? Kita semua sudah tahu jawabannya. Ingat Tuhan Maha Adil semua akan dimintai pertanggungjawabannya.




sumber : kaskus